Yesus Dipaku Pada Salib

Yesus Dipaku Pada Salib

Lihatlah, betapa orang-orang yang keras hati ini mengepung-Ku dengan keji. Sebagian merenggut Salib dan menghempaskannya ke tanah; yang lain merobek jubah-Ku yang telah lengket pada luka-luka-Ku hingga mengoyakkannya kembali dan darah mengucur.

Lihatlah, anak-anak terkasih, betapa aib dan hina yang Aku tanggung melihat DiriKu Sendiri dalam keadaan seperti ini di hadapan khalayak ramai…. Betapa jiwa-Ku berdukacita!

Para algojo merenggut mantol-Ku dan membuang undi atasnya; mantol ini, dengan mana BundaKu membalut Tubuh-Ku dengan begitu penuh perhatian sepanjang masa kanak-kanak-Ku, dan yang telah bertambah besar ukurannya seiring pertumbuhan-Ku. Bagaimanakah kiranya dukacita BundaKu sementara ia menyaksikan peristiwa ini?

Betapa ia sangat ingin menyimpan mantol itu, yang sekarang bernoda dan berlumuran Darah-Ku.

Tetapi saatnya telah tiba dan para algojo menelentangkan-Ku di atas Salib, mencengkeram dan menarik tangan-tangan-Ku agar dapat mencapai lubang-lubang yang telah dipersiapkan pada palang kayu. Sekujur Tubuh-Ku remuk, terayun-ayun dari satu sisi ke sisi lainnya dan duri-duri mahkota duri menembusi bahkan terlebih dalam ke kepala-Ku. Dengarlah dentaman pertama palu yang memaku tangan kanan-Ku … dentaman itu menggema hingga ke kedalaman bumi. Dengarlah lagi … sementara mereka memaku tangan kiri-Ku dan, di hadapan peristiwa yang demikian, surga gemetar, dan Malaikat-Malaikat prostratio. Aku menelan keheningan yang paling dalam. Tiada keluhan, ataupun erangan meluncur dari bibir-Ku, tetapi airmata-Ku yang berlinang bercampur dengan Darah yang melumuri wajah-Ku.

Setelah memaku tangan-tangan-Ku, dengan keji mereka menarik kaki-kaki-Ku…. Luka-luka-Ku terkoyak, urat-urat syaraf di kedua tangan dan lengan-Ku robek, tulang-tulang-Ku terlepas dari persendiannya…. Betapa sakit yang dahsyat!

Kedua kaki-Ku dipaku dan Darah-Ku membanjiri bumi! …

Renungkanlah barang sejenak kedua tangan dan kaki yang bersimbah darah ini…. Tubuh telanjang ini, yang penuh luka-luka, dengan urine dan darah. Kotor…. Kepala ini, yang ditembusi duri-duri tajam, bermandikan keringat, penuh debu, dan berlumuran darah….

Kagumilah keheningan, kesabaran dan ketaatan dengan mana Aku menerima sengsara ini. Siapakah gerangan yang menanggung sengsara macam ini, kurban dari penghinaan yang sebegitu hebat? Dia adalah Putra Allah! Dia yang menjadikan langit, bumi, lautan dan segala yang ada…. Dia yang menciptakan manusia, Dia yang menopang semuanya dengan kuasa-Nya yang tiada terbatas…. Dia di sana, terpaku, dinista, ditelanjangi, dengan diikuti oleh suatu himpunan besar jiwa-jiwa yang akan meninggalkan: harta milik duniawi, keluarga dan sanak-saudara, tanah air, kehormatan, kesejahteraan, kemuliaan dan apapun yang mungkin dibutuhkan demi memberikan Kemuliaan kepada Dia dan menunjukkan kepada-Nya kasih yang pantas bagi-Nya….

Perhatikanlah dengan seksama, wahai Malaikat-Malaikat Surga, dan kalian juga, jiwa-jiwa yang mengasihi-Ku…. Para prajurit akan membalikkan salib, untuk mengencangkan paku-paku agar tidak terlepas oleh karena berat Tubuh-Ku dan membuat-Ku jatuh. Tubuh-Ku akan memberikan cium damai kepada bumi. Dan sementara bunyi palu berdentam menggema di udara, di puncak Kalvari pemandangan yang paling mengagumkan digenapi…. Atas permintaan BundaKu yang, merenungkan segala yang terjadi dan tiada berdaya untuk meringankan derita-Ku, memohon dengan sangat Belas Kasihan Bapa SurgawiKu… Legion para Malaikat turun dari surga untuk menyembah Tubuh-Ku, dan untuk menopangnya agar tak menyentuh tanah dan, untuk menghindarkannya dari dihancurremukkan oleh beban Salib.

Renungkanlah Yesus-mu, yang tergantung di Salib, tanpa dapat bergerak barang sedikitpun… telanjang, hina, tanpa kehormatan, tanpa kebebasan…. Mereka telah merenggut segalanya dari-Nya! Tiada seorang pun yang berbelas kasih dan merasa kasihan atas sengsara-Nya! Ia menerima hanya siksa aniaya, olok-olok dan cemooh!

Jika engkau sungguh mengasihi Aku, adakah engkau siap untuk menjadi seperti Aku? Apakah yang akan engkau tolak demi taat kepada-Ku, menyenangkan-Ku, menghibur-Ku?…

Prostratiolah hingga mencium tanah dan ijinkanlah Aku menyampaikan beberapa kata kepadamu:

Kiranya Kehendak-Ku menang dalam dirimu!
Kiranya Kasih-Ku meniadakanmu!
Kiranya penderitaanmu memuliakan-Ku!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 − fifteen =