Barabas Dibebaskan

Barabas Dibebaskan

Pilatus mencari jalan untuk membebaskan-Ku. Ia gelisah karena peringatan dari isterinya dan kalut antara perasaan bersalah dari suara hatinya dan takut terhadap orang banyak yang akan memicu suatu pemberontakan melawannya. Dalam keadaan-Ku yang menyedihkan, ia mempertontonkan-Ku di hadapan khalayak ramai dan mengusulkan bagaimana jika ia membebaskan-Ku dan menghukum Barabas, seorang penyamun dan pembunuh yang terkenal bengis, sebagai ganti-Ku. Massa menjawab dengan suara bulat: “Hukum mati Dia dan lepaskanlah Barabas!”

Jiwa-jiwa yang mengasihi-Ku, lihatlah bagaimana mereka membandingkan-Ku dengan seorang penjahat besar, bagaimana mereka menempatkan-Ku lebih rendah dari yang paling jahat dari antara manusia. Dengarlah teriakan amukan khalayak ramai melawan Aku. Lihatlah angkara murka dengan mana mereka menuntut kematian-Ku. Adakah Aku menolak untuk menanggung perlawanan yang sedemikian memalukan itu? Tidak, justru sebaliknya, Aku memeluknya demi Kasih-Ku kepada jiwa-jiwa dan demi menunjukkan kepada mereka bahwa Kasih ini tidak hanya menuntut kematian-Ku, malahan kematian yang paling keji dan hina….

Namun demikian, janganlah beranggapan bahwa kodrat manusiawi-Ku tidak merasakan kengerian ataupun dukacita. Tetapi malahan, Aku ingin merasakan segala kengeriannya, dan menanggung keadaan yang demikian, sebagai contoh bagi kalian yang akan menguatkan kalian dalam segala keadaan dalam hidup dan mengajar kalian untuk menaklukkan kengerian atau keengganan atas apa yang ditawarkan kepada kalian ketika masalahnya adalah melakukan Kehendak Allah.

Aku kembali kepada jiwa-jiwa yang Aku bicarakan kemarin … jiwa-jiwa yang dipanggil ke kesempurnaan, yang berbicara dengan santun dan mundur ketika dihadapkan pada jalan kerendahan hati yang Aku tunjukkan kepada mereka, takut bagaimana mereka akan dihakimi oleh dunia; atau sementara mereka menimbang-nimbang kemampuan mereka, mereka yakin bahwa mereka akan lebih berguna di tempat lain dalam melayani-Ku dan demi Kemuliaan-Ku.

Aku akan menjawab kepada jiwa-jiwa itu: Katakanlah, adakah Aku menolak atau bahkan ragu ketika Aku melihat DiriKu dilahirkan pada malam buta dalam sebuah palungan bagi orangtua yang miskin dan bersahaja, jauh dari Rumah-Ku dan Tanah Air-Ku dalam musim yang paling tak bersahabat dalam tahun?

Sesudahnya, Aku tinggal tigapuluh tahun lamanya melakukan pekerjaan sederhana dan tersembunyi di bengkel: Aku mengalami dicela dan dimaki oleh orang-orang yang meminta pekerjaan dilakukan oleh Yosef, bapa-Ku. Aku tidak enggan membantu Bunda-Ku dalam pekerjaan-pekerjaan yang paling remeh di rumah. Namun demikian, adakah Aku tidak memiliki bakat lebih dari sekedar yang diperlukan bagi pekerjaan kasar seorang tukang kayu? Aku, yang pada usia duabelas tahun, mengajar para alim ulama di Bait Allah…. Tetapi, demikianlah Kehendak Bapa SurgawiKu dan, dengan melakukannya, Aku memuliakan-Nya. Ketika Aku meninggalkan Nazaret dan memulai karya-Ku di depan publik, Aku dapat saja memaklumkan Diri sebagai Mesias dan Putra Allah, agar manusia mau mendengarkan ajaran-ajaran-Ku dengan penuh hormat, tetapi Aku tidak melakukannya sebab satu-satunya kehendak-Ku adalah melakukan Kehendak BapaKu….

Dan ketika tiba saatnya Passio-Ku, dengan kekejian sebagian orang dan cemooh yang lainnya, dengan kesebatangkaraan-Ku dan kedurhakaan orang banyak, dengan kemartiran tak terperi Tubuh-Ku dan dengan kengerian Jiwa-Ku, lihatlah bagaimana dengan kasih yang terlebih lagi, Aku masih menyatakan dan memeluk Kehendak Bapa SurgawiKu.

Dengan demikian, ketika menghadapi kesulitan-kesulitan dan kengerian, jiwa sepenuhnya berserah diri pada Kehendak Allah. Akan tiba saatnya di mana, dalam persatuan mesra dengan-Nya, jiwa menikmati kemanisan yang luar biasa hingga tak mungkin diungkapkan dengan kata.

Apa yang telah Aku katakan kepada jiwa-jiwa yang enggan akan kehidupan yang bersahaja dan tersembunyi, Aku ulangi bagi mereka yang dipanggil untuk terus-menerus berhubungan dengan dunia ketika, sebaliknya, mereka lebih suka mengasingkan diri sepenuhnya dan melakukan karya yang bersahaja dan tersembunyi.

Jiwa-jiwa terkasih, kebahagiaan dan kesempurnaan kalian tidak terdapat dalam mengikuti citarasa pilihan dan kecondongan kodrat kalian sendiri, dalam dikenal ataupun tidak dikenal oleh makhluk ciptaan, dalam mempergunakan ataupun menyembunyikan bakat-bakat yang kalian miliki, melainkan dalam mempersatukan diri dan menyelaraskan diri kalian melalui kasih dan dalam penyerahan total kepada Kehendak Allah, yang diminta dari kalian bagi Kemuliaan-Nya dan bagi kebahagiaan kalian sendiri.

Cukuplah untuk hari ini, puteri kecil-Ku, cintailah dan peluklah Kehendak-Ku dengan penuh sukacita; engkau tahu bahwa Kehendak-Ku senantiasa dilakukan demi kasih.

Renungkanlah sejenak akan kemartiran Hati-Ku yang tak terkatakan, yang melihat Diri-Nya direndahkan di bawah Barabas. Betapa pada waktu itu Aku terkenang akan kelemahlembutan BundaKu kala ia memeluk-Ku erat dekat Hati-nya! Dan betapa jelas bayangan akan segala kecemasan dan susah payah yang ditanggung bapa asuh-Ku demi menunjukkan kasihnya kepada-Ku. Betapa Aku terkenang akan segala kebaikan yang Aku limpahkan secara cuma-cuma atas orang-orang yang tak tahu berterima kasih: mencelikkan mereka yang buta, menyembuhkan mereka yang sakit, membuat mereka yang lumpuh berjalan, memberi makan orang banyak, dan membangkitkan orang mati. Sekarang Aku melihat DiriKu direndahkan hingga ke keadaan yang paling hina dina! Aku adalah yang paling dibenci dari antara segala manusia, dan Aku dijatuhi hukuman mati sebagai seorang penjahat besar yang tercela.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × 3 =